Deprecated: mb_convert_encoding(): Handling HTML entities via mbstring is deprecated; use htmlspecialchars, htmlentities, or mb_encode_numericentity/mb_decode_numericentity instead in /home/u944871653/domains/albahjah.org/public_html/app/Controllers/PostController.php on line 110
Keutamaan Puasa Ramadan, Jalan menuju Ampunan dan Meraih Lailatul Qadar
Al-Quran Arsip Dakwah Ekonomi Umat Forum Diskusi
Masuk / Daftar

Keutamaan Puasa Ramadan, Jalan menuju Ampunan dan Meraih Lailatul Qadar

B
Penulis Blog Arsip - Pustaka
Terbit
Estimasi 0 Menit Baca

Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi ibadah yang sarat dengan nilai keimanan, keikhlasan, dan pengharapan pahala dari Allah. Keutamaannya sangat banyak, hingga Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam menjadikannya sebab utama diampuninya dosa-dosa seorang hamba dan diraihnya kemuliaan Lailatul Qadar. Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخارى ومسلم)

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna Imanan itu meyakini bahwa puasa adalah perintah Allah, dilakukan karena kita iman kepada Allah, bukan sekadar tradisi atau kebiasaan. Dan Ihtisaban dengan mengharap pahala hanya dari Allah, bukan pujian, sanjungan, atau penilaian manusia. Dengan terpenuhinya dua syarat ini, puasa Ramadan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dosa-dosa yang diampuni dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Imam an-Nawawi berkata:

“Yang dimaksud dalam hadis-hadis ini adalah diampuninya dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, maka wajib dengan tobat khusus.” (Syarh Shahih Muslim, 6:39)

Namun demikian, dosa kecil tidak boleh diremehkan, karena jika menumpuk dan belum diampuni, ia bisa menjadi sebab seorang hamba harus mempertanggungjawabkannya di akhirat. Selain puasa di siang hari, Islam juga menganjurkan menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah. Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Qiyam Ramadan tidak terbatas hanya pada shalat tarawih. Ia mencakup shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, i’tikaf dan segala bentuk ibadah malam yang dilakukan dengan ikhlas selama mayoritas waktu malam Ramadan diisi dengan ibadah, maka seseorang telah tergolong orang yang menghidupkan Ramadan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surat QS. Al-Qadr Ayat 3:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Lailatul Qadar memang dirahasiakan waktunya, namun Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam menegaskan bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir Ramadan. Barang siapa bersungguh-sungguh beribadah dari awal hingga akhir Ramadan, maka sangat besar kemungkinan ia mendapatkannya, meskipun tanpa mengetahui malam ke berapa.

Jika telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah). Inilah puncak Ramadan, saat peluang meraih Lailatul Qadar terbuka lebar. Doa yang paling dianjurkan pada malam-malam ini adalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berpuasa dan beribadah dengan iman dan ihtisab, serta mempertemukan kita dengan kemuliaan Lailatul Qadar. Aamiin.

 

Referensi: .

 

 

Artikel

Informasi: Artikel ini dikembangkan dengan bantuan AI Al-Bahjah Nexus untuk optimasi struktur teks dan keterbacaan, namun esensi ilmu tetap merujuk sepenuhnya pada dokumentasi resmi LPD Al-Bahjah.